Key insights and market outlook
Rencana pemerintah untuk menyalurkan 285.000 unit rumah subsidi melalui skema FLPP di 2026 dikritik sebagai terlalu statis. Ekonom Wijayanto Samirin berpendapat bahwa target ini kurang untuk mengatasi backlog perumahan nasional. Ambisi pemerintah membangun 3 juta unit rumah per tahun dinilai tidak realistis dengan jumlah subsidi saat ini.
Target pemerintah untuk menyalurkan 285.000 unit rumah subsidi melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) di 2026 mendapat sorotan. Ekonom Wijayanto Samirin dari Universitas Paramadina mengungkapkan keprihatinan bahwa angka ini merupakan target stagnan yang gagal mengatasi backlog perumahan nasional yang signifikan.
Wijayanto menekankan kesenjangan besar antara target tahunan dan ambisi pemerintah membangun 3 juta unit rumah per tahun. Ekonom ini menekankan bahwa dengan jumlah subsidi yang tetap di ratusan ribu, mencapai visi yang lebih luas tampak sulit. "Jumlah rumah yang menerima subsidi FLPP di 2026 sebanyak 285.000 unit relatif stagnan dari waktu ke waktu. Target 3 juta rumah per tahun jelas tidak akan terwujud," kata Wijayanto.
Skema FLPP saat ini, meskipun bermanfaat, tampaknya tidak cukup untuk menjembatani kesenjangan antara ambisi pemerintah dan angka aktual yang dicapai. Para ahli menyarankan bahwa kombinasi skema pembiayaan mungkin diperlukan untuk meningkatkan pasokan perumahan. Pemerintah menghadapi tantangan untuk meningkatkan alokasi subsidi atau memperkenalkan mekanisme pembiayaan yang lebih inovatif untuk mencapai target perumahan.
2026 Subsidized Housing Target Announcement
Criticism of Housing Subsidy Scheme