Key insights and market outlook
Pembukaan akses mineral kritis Indonesia ke pasar AS dinilai sebagai kesempatan besar, namun regulasi dan standar di AS, terutama Inflation Reduction Act (IRA), menghambat ekspor nikel. Menurut ekonom Telisa Aulia Falianty, kebutuhan AS akan bahan baku industri kendaraan listrik (EV) bisa meningkatkan potensi ekspor Indonesia, namun IRA yang mengecualikan komponen nikel mengurangi minat pelaku usaha AS untuk mengembangkan EV berbasis nikel. Standar lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG), serta ketertelusuran dan perjanjian dagang yang lebih rumit, juga menjadi tantangan bagi ekspor Indonesia ke AS.
Pembukaan akses mineral kritis Indonesia ke pasar AS dinilai sebagai kesempatan besar bagi sektor ekspor negara. Namun, regulasi dan standar di AS, terutama Inflation Reduction Act (IRA), menghambat ekspor nikel. Menurut ekonom Telisa Aulia Falianty, kebutuhan AS akan bahan baku industri kendaraan listrik (EV) bisa meningkatkan potensi ekspor Indonesia, namun IRA yang mengecualikan komponen nikel mengurangi minat pelaku usaha AS untuk mengembangkan EV berbasis nikel.
Selain hambatan regulasi, ekspor Indonesia ke AS juga menghadapi tantangan terkait standar lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG), serta ketertelusuran. Pasar AS memerlukan kepatuhan yang ketat terhadap standar ESG, yang dapat menjadi hambatan bagi perusahaan Indonesia. Selain itu, kompleksitas perjanjian dagang antara kedua negara menambah tantangan yang dihadapi oleh eksportir Indonesia.
Dalam kesimpulan, meskipun pembukaan akses mineral kritis Indonesia ke pasar AS memberikan kesempatan bagi sektor ekspor negara, hambatan regulasi, standar ESG, dan ketertelusuran merupakan tantangan yang signifikan. Untuk mengatasi tantangan ini, perusahaan Indonesia harus memastikan kepatuhan terhadap regulasi dan standar AS, serta memprioritaskan pertimbangan ESG dan ketertelusuran.
Pembukaan Akses Mineral Kritis
Ekspor Nikel ke AS