Key insights and market outlook
Empat bank terbesar di Indonesia - BCA, BRI, Mandiri, dan BNI - melaporkan hasil keuangan yang beragam untuk Oktober 2025. BCA menjadi satu-satunya bank dengan pertumbuhan laba tahunan, dengan laba bersih naik 4,39% menjadi Rp48,25 triliun. BRI memimpin dalam laba bersih sebesar Rp41,05 triliun, sementara Mandiri dan BNI mengalami penurunan laba bersih. Pendapatan bunga bersih (NII) menunjukkan kinerja yang bervariasi, dengan BCA dan Mandiri mencatat pertumbuhan, sementara BRI dan BNI mengalami penurunan.
Empat bank terbesar di Indonesia - PT Bank Central Asia Tbk (BCA), PT Bank Rakyat Indonesia (BRI), PT Bank Mandiri, dan PT Bank Negara Indonesia (BNI) - telah merilis hasil keuangan untuk Oktober 2025, menunjukkan kinerja yang beragam di berbagai metrik utama.
BCA menonjol sebagai satu-satunya bank di antara keempatnya yang mencapai pertumbuhan laba tahunan, dengan peningkatan 4,39% menjadi Rp48,25 triliun dibandingkan dengan Rp46,22 triliun pada Oktober 2024. Pertumbuhan ini didorong oleh kenaikan 4,42% dalam pendapatan bunga bersih (NII) menjadi Rp66,47 triliun dari Rp63,66 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
BRI mempertahankan posisinya sebagai bank dengan laba bersih kedua tertinggi sebesar Rp41,05 triliun, meskipun ini mewakili penurunan 10,21% dari Rp45,72 triliun pada Oktober 2024. NII BRI tumbuh sedikit sebesar 1,58% menjadi Rp93,46 triliun dari Rp92,00 triliun.
Bank Mandiri mencatat laba bersih sebesar Rp38,88 triliun, turun 9,70% dari Rp43,06 triliun pada Oktober 2024. Namun, bank ini berhasil menumbuhkan NII sebesar 3,55% menjadi Rp64,43 triliun dari Rp62,22 triliun.
BNI melaporkan laba bersih terendah di antara keempat bank sebesar Rp16,92 triliun, turun 6,34% dari Rp18,07 triliun pada Oktober 2024. NII bank ini juga menurun sebesar 0,95% menjadi Rp31,94 triliun dari Rp32,25 triliun.
Kinerja keuangan yang beragam dari bank-bank besar ini mencerminkan tren yang lebih luas di sektor perbankan Indonesia. Kesuksesan BCA dikaitkan dengan pertumbuhan pendapatan bunga bersih yang kuat dan manajemen yang efisien. Sebaliknya, penurunan yang dialami oleh BRI, Mandiri, dan BNI sebagian besar disebabkan oleh peningkatan biaya operasional dan, dalam kasus BRI, biaya CKPN (Cadangan Kerugian Penurunan Nilai) yang lebih tinggi.
Trioksa Siahaan, Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), mencatat bahwa kinerja keuangan BRI, Mandiri, dan BNI diperkirakan akan membaik pada kuartal keempat 2025 karena kondisi likuiditas yang lebih baik dan penurunan BI Rate. Selain itu, peningkatan belanja konsumen menjelang akhir tahun kemungkinan akan mendukung kinerjanya.
Untuk BCA, stabilitas keuangannya diperkirakan akan terus berlanjut, didorong oleh struktur CASA (Current Account and Savings Account) yang dominan, yang menjaga biaya dana tetap rendah dan meningkatkan pendapatan berbasis biaya.
Hasil keuangan yang beragam dari bank-bank terbesar Indonesia menyoroti tantangan dan peluang di lingkungan ekonomi saat ini. Sementara peningkatan biaya operasional dan provisi risiko kredit menimbulkan tantangan bagi beberapa bank, bank lain memanfaatkan kekuatan mereka dalam pendapatan bunga bersih dan operasi yang efisien. Ketika tahun ini berakhir, pengamat pasar akan memantau dengan cermat bagaimana tren ini berkembang dan apa yang mungkin mereka indikasikan untuk masa depan sektor perbankan.
Banking Financial Results Release
Net Interest Income Trends
Operational Cost Impact