Key insights and market outlook
Pasar karbon Indonesia mengalami aktivitas terbatas sejak peluncurannya pada 2023, dengan hanya Rp 78 miliar transaksi yang tercatat. Pasar ini didominasi oleh pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) milik negara sebagai pembeli utama. Komisi XI DPR RI mempertanyakan rendahnya volume perdagangan dan efektivitas pasar dalam mengurangi emisi.
Platform perdagangan karbon Indonesia, yang diluncurkan pada 2023, hanya mencatat transaksi sebesar Rp 78 miliar. Komisi XI DPR RI mengungkapkan keprihatinan tentang efektivitas pasar ini, mempertanyakan apakah volume perdagangan saat ini sudah sesuai harapan. Saat ini, pasar karbon hanya memiliki empat proyek karbon terdaftar di platform IDXCarbon Bursa Efek Indonesia.
Partisipasi terbatas terlihat dari dominasi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) milik negara sebagai pembeli utama di pasar karbon. Dominasi ini menimbulkan pertanyaan tentang kemampuan pasar dalam mengurangi emisi di berbagai sektor. Ketua Komisi XI, Mukhamad Misbakhun, menekankan bahwa dinamika pasar saat ini belum sesuai harapan, dan perlu partisipasi yang lebih beragam.
Pemerintah Indonesia menghadapi tantangan untuk memperluas partisipasi di pasar karbon di luar BUMN. Pengembangan proyek karbon tambahan dan peningkatan likuiditas pasar akan sangat penting bagi kesuksesan pasar ini. Rendahnya volume perdagangan menunjukkan bahwa mungkin diperlukan insentif atau langkah regulasi lebih lanjut untuk mendorong partisipasi korporat yang lebih luas di platform perdagangan karbon Indonesia.
Low Carbon Trading Volume
Parliamentary Inquiry into Carbon Market