Indonesia's Credit Growth Stalls Amid Liquidity Surge, BI and Govt Differ on Causes
Back
Back
6
Impact
5
Urgency
Sentiment Analysis
BearishNeutralBullish
PublishedJan 4
Sources1 verified

Pertumbuhan Kredit Indonesia Terseok-seok di Tengah Lonjakan Likuiditas, BI dan Pemerintah Berbeda Pendapat tentang Penyebabnya

Tim Editorial AnalisaHub·4 Januari 2026
Executive Summary
01

Executive Summary

Key insights and market outlook

Sektor perbankan Indonesia mengalami pertumbuhan kredit yang stagnan di sekitar 7% meskipun pemerintah telah menginjeksikan Rp200 triliun ke bank-bank milik negara. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaitkan lambatnya penyaluran kredit dengan keengganan bank mengambil risiko, sementara Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut rendahnya permintaan dan sikap wait-and-see pelaku usaha sebagai penyebabnya. Rasio pinjaman yang belum dicairkan tetap tinggi di 23,18% dari total kredit yang tersedia.

Full Analysis
02

Deep Dive Analysis

Sektor Perbankan Indonesia Menghadapi Tantangan Pertumbuhan Kredit

Pandangan yang Berbeda tentang Perlambatan Kredit

Pertumbuhan kredit di Indonesia telah melambat di sekitar 7% meskipun ada injeksi likuiditas signifikan ke bank-bank milik negara. Penempatan Rp200 triliun oleh pemerintah di bank-bank Himbara pada September belum diterjemahkan menjadi peningkatan aktivitas pinjaman. Ada perbedaan pandangan yang signifikan antara pemerintah dan Bank Indonesia mengenai penyebab perlambatan ini.

Perspektif Pemerintah

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaitkan lambatnya penyaluran kredit dengan perilaku bank yang enggan mengambil risiko daripada rendahnya permintaan. Dia berpendapat bahwa bank lebih suka berinvestasi pada instrumen yang lebih aman seperti obligasi pemerintah daripada memberikan pinjaman kepada bisnis. Purbaya mencontohkan kasus baru-baru ini yang ditangani oleh Satgas Percepatan Program Strategis Pemerintah (P2SP) di mana perusahaan PT Mayer Indah Indonesia kesulitan mendapatkan pembiayaan dari bank-bank milik negara meskipun telah berdiri sejak 1973.

Pandangan Bank Indonesia

Sebaliknya, Gubernur BI Perry Warjiyo berpendapat bahwa rendahnya pertumbuhan kredit terutama disebabkan oleh lemahnya permintaan dan sikap wait-and-see pelaku usaha. Menurut Warjiyo, tingginya pinjaman yang belum dicairkan, yang mencapai Rp2.509,4 triliun pada November 2025 (23,18% dari total kredit yang tersedia), menunjukkan bahwa permintaan tidak kuat. Dia menunjuk pada faktor-faktor seperti optimalisasi pembiayaan internal oleh korporasi dan penurunan suku bunga kredit yang masih lambat sebagai penyebab lesunya permintaan.

Dinamika Pasar Kredit

Posisi likuiditas sektor perbankan tampak kuat, dengan rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) yang membaik menjadi 29,67%. Dana pihak ketiga tumbuh sebesar 12,03% YoY pada November 2025, mendukung kapasitas bank untuk memberikan pinjaman. Namun, pertumbuhan kredit UMKM justru terkontraksi sebesar 0,64% YoY, mencerminkan persepsi risiko kredit yang meningkat pada segmen ini.

Outlook dan Implikasi

Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan kredit untuk 2025 akan berada di ujung bawah kisaran 8%-11% YoY, dengan harapan perbaikan di 2026. Pandangan yang berbeda antara pemerintah dan BI menyoroti kompleksitas faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan kredit, mulai dari kendala sisi permintaan hingga perilaku perbankan sisi penawaran. Situasi ini menggarisbawahi tantangan dalam merangsang pertumbuhan kredit meskipun likuiditas yang melimpah dalam sistem.

Original Sources
03

Source References

Click any source to view the original article in a new tab

Story Info

Published
1 week ago
Read Time
13 min
Sources
1 verified

Topics Covered

Credit GrowthBanking Sector PerformanceMonetary Policy Effectiveness

Key Events

1

Government Liquidity Injection

2

Credit Growth Slowdown

3

Banking Sector Liquidity Analysis

Timeline from 1 verified sources