Key insights and market outlook
Sektor perbankan Indonesia mengalami pertumbuhan kredit yang stagnan di sekitar 7% meskipun pemerintah telah menginjeksikan Rp200 triliun ke bank-bank milik negara. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaitkan lambatnya penyaluran kredit dengan keengganan bank mengambil risiko, sementara Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut rendahnya permintaan dan sikap wait-and-see pelaku usaha sebagai penyebabnya. Rasio pinjaman yang belum dicairkan tetap tinggi di 23,18% dari total kredit yang tersedia.
Pertumbuhan kredit di Indonesia telah melambat di sekitar 7% meskipun ada injeksi likuiditas signifikan ke bank-bank milik negara. Penempatan Rp200 triliun oleh pemerintah di bank-bank Himbara pada September belum diterjemahkan menjadi peningkatan aktivitas pinjaman. Ada perbedaan pandangan yang signifikan antara pemerintah dan Bank Indonesia mengenai penyebab perlambatan ini.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaitkan lambatnya penyaluran kredit dengan perilaku bank yang enggan mengambil risiko daripada rendahnya permintaan. Dia berpendapat bahwa bank lebih suka berinvestasi pada instrumen yang lebih aman seperti obligasi pemerintah daripada memberikan pinjaman kepada bisnis. Purbaya mencontohkan kasus baru-baru ini yang ditangani oleh Satgas Percepatan Program Strategis Pemerintah (P2SP) di mana perusahaan PT Mayer Indah Indonesia kesulitan mendapatkan pembiayaan dari bank-bank milik negara meskipun telah berdiri sejak 1973.
Sebaliknya, Gubernur BI Perry Warjiyo berpendapat bahwa rendahnya pertumbuhan kredit terutama disebabkan oleh lemahnya permintaan dan sikap wait-and-see pelaku usaha. Menurut Warjiyo, tingginya pinjaman yang belum dicairkan, yang mencapai Rp2.509,4 triliun pada November 2025 (23,18% dari total kredit yang tersedia), menunjukkan bahwa permintaan tidak kuat. Dia menunjuk pada faktor-faktor seperti optimalisasi pembiayaan internal oleh korporasi dan penurunan suku bunga kredit yang masih lambat sebagai penyebab lesunya permintaan.
Posisi likuiditas sektor perbankan tampak kuat, dengan rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) yang membaik menjadi 29,67%. Dana pihak ketiga tumbuh sebesar 12,03% YoY pada November 2025, mendukung kapasitas bank untuk memberikan pinjaman. Namun, pertumbuhan kredit UMKM justru terkontraksi sebesar 0,64% YoY, mencerminkan persepsi risiko kredit yang meningkat pada segmen ini.
Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan kredit untuk 2025 akan berada di ujung bawah kisaran 8%-11% YoY, dengan harapan perbaikan di 2026. Pandangan yang berbeda antara pemerintah dan BI menyoroti kompleksitas faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan kredit, mulai dari kendala sisi permintaan hingga perilaku perbankan sisi penawaran. Situasi ini menggarisbawahi tantangan dalam merangsang pertumbuhan kredit meskipun likuiditas yang melimpah dalam sistem.
Government Liquidity Injection
Credit Growth Slowdown
Banking Sector Liquidity Analysis