Indonesia's Debt Interest Payment Ratio Remains High at 20.5% Despite Lower Borrowing Costs
Back
Back
6
Impact
7
Urgency
Sentiment Analysis
BearishNegativeBullish
PublishedDec 25
Sources3 verified

Rasio Pembayaran Bunga Utang Indonesia Tetap Tinggi di 20,5% Meski Biaya Pinjaman Rendah

Tim Editorial AnalisaHub·25 Desember 2025
Executive Summary
01

Executive Summary

Key insights and market outlook

Bank Dunia menyoroti bahwa rasio pembayaran bunga utang Indonesia tetap tinggi di 20,5% dari pendapatan hingga Oktober 2025, meskipun kondisi pembiayaan akomodatif dan biaya pinjaman yang lebih rendah. Ekonom memperingatkan hal ini membatasi kapasitas belanja pemerintah dan menimbulkan risiko fiskal. Rasio ini dianggap berisiko karena melebihi belanja modal dan transfer daerah. Defisit fiskal melebar dari 1,4% PDB pada Oktober 2024 menjadi 2,0% pada Oktober 2025, mencerminkan tantangan pendapatan 1

3.

Full Analysis
02

Deep Dive Analysis

Indonesia Menghadapi Beban Bunga Utang Tinggi Meski Biaya Pinjaman Rendah

Bank Dunia Soroti Tantangan Fiskal

Bank Dunia telah menyoroti tingginya rasio pembayaran bunga utang Indonesia yang mencapai 20,5% dari pendapatan pemerintah per Oktober 2025 1

. Hal ini terjadi meskipun kondisi pembiayaan tetap akomodatif dan upaya menurunkan biaya pinjaman berhasil. Laporan Bank Dunia berjudul 'Fondasi Digital untuk Pertumbuhan' edisi Desember 2025 mencatat bahwa meskipun pemerintah menjaga kehati-hatian fiskal, beban bunga yang tinggi membatasi fleksibilitas anggaran 3.

Implikasi Ekonomi

Ekonom dari berbagai institusi mengungkapkan keprihatinan mereka terhadap implikasi rasio yang tinggi ini. Wijayanto Samirin dari Universitas Paramadina menggambarkan situasi ini sebagai 'lampu kuning' untuk kebijakan fiskal, menandakan skenario berisiko tinggi 1

. Yusuf Rendy Manilet dari Center of Reform on Economic (CORE) menekankan bahwa dampak paling signifikan adalah penyempitan ruang belanja pemerintah, membatasi kemampuan untuk mengalokasikan dana pada prioritas pembangunan 2.

Defisit Fiskal Melebar

Defisit fiskal menunjukkan tren yang mengkhawatirkan, meningkat dari 1,4% PDB pada Oktober 2024 menjadi 2,0% pada Oktober 2025. Melebarnya defisit ini mencerminkan tantangan dalam pengumpulan pendapatan negara, meskipun pemerintah memberikan dukungan fiskal yang ditargetkan dan menjaga kehati-hatian 3

. Bank Dunia mengakui upaya ini namun menunjukkan bahwa efektivitasnya terhambat oleh penurunan pendapatan negara.

Sumber

  1. [Kontan - Ekonom Sebut Rasio Pembayaran Bunga Utang di Atas 20% Jadi Lampu Kuning Fiskal](
  2. [Kontan - Rasio Bunga Utang Masih Tinggi, Ruang Belanja Pemerintah Kian Menyempit](
  3. [Kontan - Bank Dunia Soroti Rasio Bunga Utang RI Tinggi Meski Biaya Pinjaman Rendah](
Original Sources

Story Info

Published
3 weeks ago
Read Time
11 min
Sources
3 verified

Topics Covered

Fiscal PolicyPublic Debt ManagementEconomic Risk Factors

Key Events

1

High Debt Interest Ratio Reported

2

Fiscal Deficit Widening

3

Government Revenue Challenges

Timeline from 3 verified sources