Key insights and market outlook
Transaksi pembayaran digital Indonesia meningkat signifikan, dengan transaksi QRIS mencapai 10,33 miliar dan transaksi BI-Fast mencapai 9,61 miliar hingga September 2025. Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta mengaitkan pertumbuhan ini dengan peningkatan inklusi keuangan, di mana 58 juta pengguna dan 41 juta merchant telah mengadopsi QRIS, dengan 90% di antaranya adalah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). BI memproyeksikan transaksi pembayaran digital akan naik empat kali lipat menjadi 147,3 miliar pada 2030, didorong oleh partisipasi generasi muda dan inovasi teknologi.
Lanskap pembayaran digital Indonesia telah menyaksikan pertumbuhan luar biasa, dengan dua sistem pembayaran utama - Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dan BI-Fast - mencapai volume transaksi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hingga September 2025, transaksi QRIS telah mencapai 10,33 miliar, sementara transaksi BI-Fast telah mencapai 9,61 miliar. Angka-angka ini menggarisbawahi adopsi metode pembayaran digital yang cepat di seluruh negeri.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Filianingsih Hendarta menyoroti bahwa pertumbuhan signifikan dalam transaksi digital merupakan cerminan langsung dari peningkatan inklusi keuangan. Sistem QRIS saja telah diadopsi oleh 58 juta pengguna dan 41 juta merchant di Indonesia. Terutama, basis merchant didominasi oleh usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), dengan lebih dari 90% dari 41 juta merchant masuk dalam kategori ini. Adopsi yang luas di kalangan UMKM ini telah berperan penting dalam mendorong pertumbuhan keseluruhan transaksi digital.
Bank Indonesia optimis tentang pertumbuhan lanjutan pembayaran digital. Bank sentral memproyeksikan bahwa transaksi pembayaran digital akan naik empat kali lipat menjadi 147,3 miliar pada 2030, mewakili peningkatan signifikan dari angka saat ini. Proyeksi ini didasarkan pada faktor-faktor seperti partisipasi terus-menerus generasi muda dalam ekonomi digital dan inovasi teknologi yang sedang berlangsung. Namun, Filianingsih juga mengingatkan tentang risiko yang tumbuh seiring dengan peningkatan transaksi digital, terutama dalam hal ancaman keamanan siber dan penipuan.
Seiring transaksi digital terus tumbuh, risiko terkait juga meningkat. Filianingsih menekankan perlunya strategi manajemen risiko yang komprehensif dan kolaboratif untuk mengatasi tantangan ini. Ia menyoroti bahwa kerugian global akibat kejahatan siber diproyeksikan meningkat dari $8,4 triliun pada 2022 menjadi $23,8 triliun pada 2027. Untuk mengurangi risiko ini, ia mendesak pelaku industri untuk memperkuat sistem deteksi penipuan, mengimplementasikan langkah-langkah autentikasi yang kuat, dan mematuhi prinsip-prinsip seperti 'kenali merchant Anda' dan 'kenali pelanggan Anda'. Pentingnya meningkatkan literasi digital dan perlindungan konsumen juga ditekankan, dengan tanggung jawab kolektif diidentifikasi di antara regulator, pelaku industri, dan pengguna.
QRIS Transaction Milestone
BI-Fast Adoption Growth
Digital Payment Projection