Key insights and market outlook
Bank Indonesia (BI) telah merevisi proyeksi pertumbuhan ekonominya untuk Indonesia di tahun 2026 menjadi 5,3%, sedikit lebih rendah dari target pemerintah sebesar 5,4% dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan bahwa proyeksi tersebut mempertimbangkan ketidakpastian ekonomi global dan dampak pelonggaran kebijakan moneter BI melalui penurunan suku bunga. Pertumbuhan ekonomi saat ini terutama ditopang oleh konsumsi pemerintah, yang tumbuh sebesar 5,49% pada kuartal III 2025.
Bank Indonesia (BI) telah menyesuaikan proyeksi pertumbuhan ekonominya untuk tahun 2026 menjadi 5,3%, sedikit lebih rendah dari target pemerintah sebesar 5,4% sebagaimana tertuang dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Menurut Gubernur BI Perry Warjiyo, proyeksi ini mempertimbangkan perlambatan ekonomi global yang diantisipasi dan dampak pelonggaran moneter BI melalui penurunan suku bunga.
Pertumbuhan ekonomi saat ini banyak ditopang oleh konsumsi pemerintah, yang mencatat peningkatan signifikan sebesar 5,49% pada kuartal ketiga tahun 2025. Chief Economist The Indonesia Economic Intelligence (IEI), Sunarsip, mencatat bahwa meskipun pertumbuhan secara keseluruhan tetap stabil, hal ini belum didukung oleh pemulihan konsumsi swasta yang substansial. Ketergantungan pada belanja pemerintah ini menyoroti tantangan yang masih dihadapi dalam merangsang permintaan domestik yang lebih luas.
Gubernur Warjiyo menjelaskan bahwa proyeksi BI didasarkan pada berbagai sumber data, termasuk statistik dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan berbagai survei yang dilakukan oleh BI. Ia juga menyoroti bahwa nilai tukar rupiah diharapkan tetap relatif stabil di tahun 2026, dengan rata-rata pada level yang serupa dengan tahun 2025 karena ketidakpastian global yang masih berlanjut. Stabilitas ini sangat penting untuk menjaga kepercayaan investor dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
2026 Economic Growth Projection Revision
BI Monetary Policy Easing