Key insights and market outlook
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia melaporkan bahwa tingkat serapan anggaran kementeriannya hanya mencapai 31,12% per 10 November 2025, meskipun telah menerima tambahan dana. Total anggaran yang tersedia mencapai Rp 14,10 triliun, dengan pagu awal sebesar Rp 8,4 triliun ditambah alokasi tambahan. Bahlil optimis bahwa tingkat serapan akhir dapat mencapai 94% pada akhir tahun jika tren saat ini berlanjut.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Indonesia menghadapi tantangan dalam serapan anggaran, dengan hanya 31,12% dari total anggaran Rp 14,10 triliun yang terpakai per 10 November 2025. Menteri Bahlil Lahadalia melaporkan hal ini dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR RI, menyoroti kesenjangan antara dana yang dialokasikan dan pengeluaran aktual.
Alokasi anggaran awal kementerian adalah Rp 8,4 triliun, di mana sekitar Rp 696,88 miliar dikembalikan karena efisiensi, sehingga anggaran efektif menjadi Rp 7,84 triliun. Berdasarkan angka yang disesuaikan ini, tingkat serapan mencapai 65%. Bahlil optimis bahwa kementerian dapat mencapai tingkat serapan 94% pada akhir tahun, dengan asumsi tren pengeluaran saat ini berlanjut.
Tingkat serapan saat ini menimbulkan kekhawatiran tentang kapasitas implementasi berbagai proyek energi di bawah kementerian. Meskipun ada tantangan, kementerian telah menerima tambahan pendanaan di luar alokasi awal, sehingga total anggaran menjadi Rp 14,10 triliun. Perbedaan signifikan antara anggaran awal dan total menunjukkan sifat dinamis pengelolaan anggaran di sektor energi.
Keyakinan Bahlil untuk mencapai tingkat serapan 94% menunjukkan adanya upaya proaktif untuk mempercepat implementasi proyek. Kemampuan kementerian untuk memanfaatkan dana yang dialokasikan secara efektif akan sangat penting untuk mencapai target sektor energi dan menjaga momentum pembangunan infrastruktur.
Budget Absorption Update
Energy Sector Funding Allocation