Indonesia's Fintech Lending NPL Rate Surges to 4.33% as Economic Pressures Mount
Back
Back
7
Impact
8
Urgency
Sentiment Analysis
BearishNegativeBullish
PublishedJan 9
Sources1 verified

Tingkat Kredit Macet Pinjol RI Meroket ke 4,33% di Tengah Tekanan Ekonomi

Tim Editorial AnalisaHub·9 Januari 2026
Executive Summary
01

Executive Summary

Key insights and market outlook

Sektor pinjaman daring (pinjol) Indonesia mengalami lonjakan tingkat kredit macet agregat hingga 4,33% per November 2025, naik dari 2,52% pada November 2024 dan 2,76% pada Oktober 2025. Analis menilai kenaikan drastis ini disebabkan oleh peningkatan permintaan pembiayaan pada September-Oktober 2025, pergeseran prioritas belanja konsumen, dan bencana alam yang memengaruhi kemampuan bayar debitur. Tingkat Wan Prestasi 90 hari (TWP90) industri ini memicu kekhawatiran akan potensi gagal bayar dan stabilitas keuangan.

Full Analysis
02

Deep Dive Analysis

Sektor Pinjol RI Hadapi Tantangan NPL yang Meningkat

Kenaikan Tajam Kredit Macet

Industri pinjaman daring (pinjol) Indonesia mengalami penurunan kualitas aset yang signifikan, dengan tingkat kredit macet agregat melonjak ke 4,33% per November 2025. Ini merupakan peningkatan substansial dari 2,52% pada November 2024 dan 2,76% pada Oktober 2025, menunjukkan eskalasi cepat dalam risiko kredit. TWP90 (Tingkat Wan Prestasi 90 hari) yang mengukur pinjaman yang telah jatuh tempo 90 hari atau lebih telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan bagi pelaku industri dan regulator.

Faktor Penyebab Meningkatnya NPL

Para ahli industri, seperti Nailul Huda, Direktur Ekonomi Digital di Center of Economic and Law Studies (Celios), menunjukkan beberapa faktor kunci yang mendorong peningkatan ini. Pertama, terjadi lonjakan signifikan dalam permintaan pinjaman selama September dan Oktober 2025 ketika konsumen mencari pembiayaan untuk memenuhi kebutuhan mereka, yang kemudian menyebabkan potensi gagal bayar yang lebih tinggi. Kedua, pergeseran prioritas belanja konsumen pada November 2025 membuat sebagian besar pendapatan dialokasikan untuk konsumsi daripada pembayaran utang, yang semakin memperburuk situasi NPL. Selain itu, bencana alam yang terjadi di Indonesia selama periode ini berdampak buruk pada kemampuan debitur untuk membayar pinjaman mereka, sehingga berkontribusi pada kenaikan NPL.

Implikasi bagi Industri dan Regulator

Peningkatan tajam NPL di sektor pinjol memiliki implikasi penting bagi pelaku industri dan regulator. Bagi perusahaan fintech, manajemen risiko kredit yang efektif akan sangat penting untuk menjaga stabilitas keuangan dan kepercayaan investor. Regulator, seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK), mungkin perlu memantau situasi ini dengan cermat dan berpotensi memperkenalkan langkah-langkah lebih lanjut untuk mengurangi risiko sistemik. Kinerja pemain industri tertentu, seperti PT Dana Syariah Indonesia (DSI), juga sedang diawasi karena masalah mereka telah berkontribusi pada tingkat NPL industri secara keseluruhan.

Outlook ke Depan

Prospek untuk sektor pinjol di Indonesia tetap tidak pasti, dengan tingkat NPL yang diperkirakan akan tetap di bawah pengawasan ketat. Para pemangku kepentingan industri akan memantau langkah-langkah regulasi tambahan dan menilai strategi mereka untuk mengelola risiko kredit di lingkungan ekonomi yang menantang. Kemampuan pemberi pinjaman fintech untuk beradaptasi dengan kondisi ini sambil mempertahankan pertumbuhan akan sangat penting bagi kinerja keseluruhan sektor di tahun 2026 dan seterusnya.

Original Sources
03

Source References

Click any source to view the original article in a new tab

Story Info

Published
1 week ago
Read Time
14 min
Sources
1 verified

Topics Covered

Fintech LendingNon-Performing LoansCredit Risk

Key Events

1

NPL Rate Increase

2

Fintech Lending Challenges

Timeline from 1 verified sources