Key insights and market outlook
Situasi fiskal Indonesia berada di bawah tekanan karena beban bunga utang terus meningkat, didorong oleh kenaikan suku bunga global dan akumulasi utang dari periode pandemi. Biaya refinancing utang pemerintah menjadi jauh lebih mahal karena kenaikan suku bunga global, terutama berdampak pada Surat Berharga Negara (SBN). Situasi ini diperparah oleh akumulasi besar utang selama pandemi ketika defisit APBN melebar melampaui 6% dari PDB.
Peningkatan beban bunga utang Indonesia bukanlah perkembangan mendadak, melainkan hasil dari faktor struktural yang kini menekan ruang fiskal pemerintah. M. Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, mengidentifikasi dua faktor utama yang berkontribusi pada situasi ini. Pertama, kenaikan suku bunga global pasca-pengetatan moneter di negara maju telah membuat biaya refinancing utang pemerintah menjadi lebih mahal, terutama untuk Surat Berharga Negara (SBN). Rizal menyatakan bahwa "biaya refinancing meningkat signifikan karena suku bunga global naik, sementara sebagian besar pembiayaan kita berbasis pasar."
Faktor kedua adalah akumulasi utang yang signifikan selama periode pandemi. Pada saat itu, defisit APBN Indonesia melebar hingga di atas 6% dari PDB, sehingga pemerintah harus memperoleh pembiayaan utang dalam jumlah besar. Sekarang, ketika sebagian utang ini mulai jatuh tempo, utang tersebut harus dibiayai ulang dengan suku bunga yang lebih tinggi, yang semakin memberatkan keuangan pemerintah.
Kombinasi faktor-faktor ini memberikan tekanan besar pada kebijakan fiskal Indonesia. Meningkatnya biaya pembayaran utang mengurangi ruang fiskal pemerintah, yang berpotensi membatasi kemampuan pemerintah untuk mendanai proyek pembangunan dan memberikan dukungan sosial. Situasi ini menyoroti perlunya manajemen fiskal yang hati-hati untuk menyeimbangkan kebutuhan stimulus ekonomi dengan kebutuhan untuk menjaga keberlanjutan fiskal.
Rising Debt Interest Burden
Increased Refinancing Costs
Pandemic Debt Accumulation