Key insights and market outlook
Menteri Keuangan Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, mengungkapkan bahwa harga Pertalite sebenarnya adalah Rp 11.700/liter, sementara konsumen hanya membayar Rp 10.000/liter. Pemerintah mensubsidi sisa Rp 1.700/liter (15%) melalui kompensasi. Untuk solar, subsidi pemerintah bahkan lebih tinggi, yaitu Rp 5.150/liter. Pengungkapan ini menyoroti beban signifikan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akibat subsidi BBM.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa baru-baru ini mengungkapkan biaya sebenarnya dari bahan bakar bersubsidi di Indonesia, menunjukkan beban besar pada anggaran negara. Harga Pertalite sebenarnya adalah Rp 11.700/liter, sementara konsumen hanya membayar Rp 10.000/liter. Ini berarti pemerintah menanggung Rp 1.700/liter atau 15% dari biaya melalui mekanisme kompensasi.
Situasi lebih berat pada solar. Biaya sebenarnya mencapai Rp 11.950/liter, tapi konsumen hanya membayar Rp 6.800/liter. Akibatnya, subsidi pemerintah untuk solar mencapai Rp 5.150/liter, jauh lebih tinggi dari Pertalite. Angka-angka ini menunjukkan beban keuangan besar pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akibat subsidi BBM.
Pengungkapan ini menyoroti tekanan besar subsidi BBM pada keuangan publik. Pemerintah harus menyeimbangkan kebutuhan menjaga harga BBM terjangkau bagi konsumen dengan beban fiskal subsidi. Dengan harga energi yang berfluktuasi secara global, pengelolaan subsidi ini tetap tantangan krusial bagi kebijakan fiskal Indonesia.
Fuel Subsidy Disclosure
Energy Pricing Policy