Key insights and market outlook
Pengembangan panas bumi Indonesia menghadapi tantangan infrastruktur signifikan meskipun memiliki kapasitas potensial 23,74 GW, menjadikan RI sebagai negara kedua terbesar cadangan panas bumi setelah Amerika Serikat. Ahli Fahmy Radhi dari UGM menekankan pentingnya infrastruktur antarpulau dan dukungan regulasi untuk menarik investor dan mencapai target pemerintah menambahkan kapasitas 5.2 GW pada 2029.
Indonesia memiliki potensi panas bumi sebesar 23,74 gigawatt (GW), menempatkannya sebagai negara kedua terbesar cadangan panas bumi dunia setelah Amerika Serikat. Meskipun memiliki keunggulan alam signifikan karena lokasinya di Cincin Api Pasifik, pengembangan energi panas bumi masih terkendala keterbatasan infrastruktur.
Fahmy Radhi, ahli energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), menekankan bahwa potensi panas bumi Indonesia bisa menjadi tulang punggung strategi energi terbarukan. Namun, kurangnya infrastruktur memadai untuk mengakses sumber daya ini tetap menjadi hambatan utama. Radhi menyoroti pentingnya infrastruktur interkoneksi antarpulau untuk menyeimbangkan pasokan dan permintaan, sehingga membuat proyek panas bumi lebih menarik bagi investor.
Pemerintah Indonesia telah menguraikan rencana ambisius dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, dengan target penambahan kapasitas energi terbarukan sebesar 42,5 GW, dimana panas bumi akan berkontribusi 5,2 GW. Rencana ini memproyeksikan bahwa 70% kapasitas baru akan berasal dari sumber terbarukan, bertujuan mencapai bauran energi yang lebih berkelanjutan. Pada 2029, pemerintah menargetkan kapasitas terpasang panas bumi mencapai 1,1 GW.
Meski memiliki rencana besar, realisasi target energi terbarukan termasuk panas bumi masih menghadapi tantangan. Hingga 2024, bauran energi terbarukan Indonesia baru mencapai 14,68%, di bawah target 19,5%. Secara global, energi panas bumi semakin diminati, terutama di Amerika Serikat, dimana dihargai sebagai sumber energi bebas karbon yang handal. Perusahaan teknologi besar seperti Meta dan Google semakin beralih ke energi panas bumi untuk mendukung data center mereka karena stabilitas dan emisi rendah.
Untuk mempercepat pengembangan panas bumi, Indonesia perlu mengatasi tantangan infrastruktur melalui perencanaan strategis dan dukungan kebijakan. Pemerintah harus memprioritaskan pembangunan infrastruktur dasar dan menyederhanakan proses regulasi untuk menarik investasi yang dibutuhkan. Tanpa langkah-langkah ini, potensi panas bumi RI yang besar akan tetap terbengkalai.
Geothermal Capacity Addition Plans
Renewable Energy Target Update