Key insights and market outlook
PMI Manufaktur Indonesia naik ke 53,3 di November, tertinggi sejak Februari 2025, didorong oleh permintaan domestik dan faktor musiman. Namun, Ketua Apindo Shinta W Kamdani memperingatkan bahwa pertumbuhan ini tergantung pada momentum jangka pendek dan bukan pada perbaikan struktural yang lebih kuat. Pesanan ekspor mengalami kontraksi terdalam dalam 14 bulan terakhir, menyoroti tantangan yang masih ada.
Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur Indonesia naik ke 53,3 di November, menandai level tertinggi sejak Februari 2025 ketika mencapai 53,06. Kenaikan selama empat bulan berturut-turut ini menunjukkan tren positif di sektor manufaktur, terutama didorong oleh permintaan domestik dan faktor musiman. Namun, narasi pertumbuhan ini diredam oleh sinyal yang mengkhawatirkan, terutama pada pesanan ekspor yang mengalami kontraksi terdalam dalam 14 bulan terakhir.
Penguatan PMI manufaktur terutama disebabkan oleh konsumsi domestik yang kuat, khususnya selama periode akhir tahun. Indeks Kepercayaan Industri (IKI) November mencapai 53,45, lebih tinggi dari tahun sebelumnya, meskipun kenaikannya masih bertahap. Ketua Apindo Shinta W Kamdani menekankan bahwa kekuatan manufaktur saat ini sangat bergantung pada siklus konsumsi akhir tahun dan transmisi stimulus kebijakan, bukan pada perbaikan struktural yang lebih kuat.
Meskipun perbaikan PMI terbaru disambut baik, para pemimpin industri mengingatkan untuk tidak terlalu optimis. Kontraksi lanjutan pada pesanan ekspor menimbulkan kekhawatiran tentang daya saing global sektor ini dan permintaan eksternal. Saat Indonesia menatap 2026, mempertahankan jalur pertumbuhan saat ini akan memerlukan penanganan tantangan yang ada sambil terus mendukung faktor pendorong permintaan domestik.
Manufacturing PMI Improvement
Export Contraction Deepens