Key insights and market outlook
Utang pinjaman online (pinjol) di Indonesia telah melonjak menjadi Rp 90,99 triliun per September 2025, mencatatkan kenaikan 22,16% secara tahunan. Para ahli mengaitkan pertumbuhan ini dengan melemahnya daya beli konsumen dan biaya hidup yang meningkat, terutama di wilayah perkotaan. Kemudahan akses pinjaman online ditambah dengan edukasi keuangan yang terbatas memperburuk keadaan, menciptakan risiko signifikan bagi konsumen.
Utang pinjaman online (pinjol) di Indonesia telah mencapai Rp 90,99 triliun per September 2025, mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 22,16% secara tahunan. Pertumbuhan pesat ini dipengaruhi oleh berbagai faktor ekonomi yang memengaruhi konsumen Indonesia.
Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif CELIOS, mengidentifikasi melemahnya daya beli konsumen sebagai faktor utama. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga berada di bawah 5% pada kuartal III 2025, sementara terbatasnya penciptaan lapangan kerja formal dan biaya hidup perkotaan yang meningkat mendorong konsumen menuju pinjaman online. Kemudahan akses melalui proses sederhana seperti verifikasi selfie membuat pinjaman ini sangat menarik.
Meski praktis, pinjaman online membawa risiko signifikan termasuk beban bunga tinggi dan denda administratif untuk pembayaran terlambat. Edukasi keuangan yang terbatas di kalangan konsumen memperburuk risiko ini, karena peminjam sering mengabaikan konsekuensi jangka panjang utang berbunga tinggi.
Untuk mengatasi tantangan ini, para ahli merekomendasikan pendekatan multi-aspek: meningkatkan daya beli konsumen melalui kenaikan upah minimum 8,5-10% dan perluasan program bantuan tunai ke kelompok desil kelima. Selain itu, meningkatkan literasi keuangan dan memberantas korupsi dipandang sebagai langkah krusial dalam mengurangi risiko pinjaman online.
P2P Lending Debt Surge
Consumer Debt Increase