Indonesia's Personal Accident Insurance Premium Falls 7.3% as Economic Pressures Mount
Back
Back
5
Impact
6
Urgency
Sentiment Analysis
BearishNeutralBullish
PublishedDec 4
Sources1 verified

Premi Asuransi Kecelakaan Diri Indonesia Turun 7,3% di Tengah Tekanan Ekonomi

Tim Editorial AnalisaHub·4 Desember 2025
Executive Summary
01

Executive Summary

Key insights and market outlook

Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) melaporkan penurunan premi asuransi kecelakaan diri sebesar 7,3% year-on-year menjadi Rp2,05 triliun pada kuartal III/2025. Analis Dedy Kristianto mengaitkan hal ini dengan tekanan ekonomi dan pergeseran prioritas konsumen menuju proteksi kesehatan yang lebih esensial. Untuk pemulihan, para ahli menyarankan inovasi produk, bundling digital, dan ekspansi mikroasuransi sebagai strategi potensial.

Full Analysis
02

Deep Dive Analysis

Pasar Asuransi Kecelakaan Diri Indonesia Menghadapi Tantangan di 2025

Penurunan Pendapatan Premi

Sektor asuransi kecelakaan diri Indonesia mengalami kontraksi signifikan pada Q3 2025, dengan pendapatan premi menurun 7,3% year-on-year menjadi Rp2,05 triliun menurut data dari Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI). Penurunan ini mencerminkan tekanan ekonomi yang lebih luas yang mempengaruhi anggaran rumah tangga dan keputusan pembelian asuransi.

Tekanan Ekonomi dan Perilaku Konsumen

Ahli industri Dedy Kristianto, anggota Komunitas Penulis Asuransi Indonesia (Kupasi), menjelaskan bahwa penurunan tersebut bukan berarti penolakan terhadap produk asuransi kecelakaan diri, melainkan pergeseran prioritas konsumen. "Ketika arus kas rumah tangga terkendala, konsumen cenderung menunda pembelian produk proteksi tambahan," jelasnya. Lingkungan ekonomi saat ini telah menyebabkan penurunan perjalanan dan mobilitas, yang semakin berdampak pada permintaan asuransi kecelakaan diri.

Perubahan Preferensi Konsumen

Dedy menyoroti bahwa konsumen kini lebih memprioritaskan asuransi kesehatan yang lebih komprehensif dan perlindungan penyakit kritis daripada asuransi kecelakaan diri. "Asuransi kecelakaan diri dipandang sebagai proteksi tambahan, bukan kebutuhan primer," jelasnya. Pergeseran perilaku konsumen ini mendorong perusahaan asuransi untuk mengkaji ulang penawaran produk dan strategi distribusi mereka.

Rekomendasi Strategis untuk Perusahaan Asuransi

Untuk menghidupkan kembali pertumbuhan segmen asuransi kecelakaan diri, Dedy menyarankan tiga strategi kunci:

  1. Inovasi Produk: Mengembangkan produk yang lebih relevan dengan menggabungkan perlindungan kecelakaan diri dengan manfaat lain seperti perawatan rawat jalan atau tunjangan harian rumah sakit.
  2. Integrasi Ekosistem Digital: Melakukan bundling produk melalui platform digital seperti e-commerce, layanan transportasi online, komunitas olahraga, dan agen perjalanan.
  3. Ekspansi Mikroasuransi: Fokus pada produk mikroasuransi yang dapat diserap cepat oleh pasar massal.

Prospek Pasar untuk Q4 2025

Sementara Dedy memproyeksikan bahwa premi asuransi kecelakaan diri akan tetap tertekan hingga akhir tahun, dia mengantisipasi adanya stabilisasi di Q4 2025. "Mungkin ada sedikit perbaikan karena peningkatan aktivitas perjalanan akhir tahun, tapi tidak cukup untuk mencapai pertumbuhan positif. Pemulihan akan sangat bergantung pada perbaikan daya beli konsumen," pungkasnya.

Perbaikan Rasio Klaim

Menariknya, meskipun premi menurun, rasio klaim untuk asuransi kecelakaan diri membaik signifikan. Rasio klaim turun menjadi 13,6% per September 2025, turun dari 19,3% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Jumlah klaim absolut juga menurun 34,8% year-on-year menjadi Rp279 miliar.

Original Sources
03

Source References

Click any source to view the original article in a new tab

Story Info

Published
1 month ago
Read Time
15 min
Sources
1 verified

Topics Covered

Asuransi Kecelakaan DiriPertumbuhan PremiStrategi Pemulihan

Key Events

1

Penurunan Premi Asuransi Kecelakaan Diri

2

Perbaikan Rasio Klaim

Timeline from 1 verified sources