Key insights and market outlook
Presiden Prabowo Subianto mendesak birokrasi Indonesia untuk bertransformasi menjadi sistem yang lebih responsif, mengatasi masalah-masalah lama terkait inefisiensi dan kompleksitas. Menteri PANRB Rini Widyantini mengidentifikasi tiga tantangan utama: kurangnya sinergi antarlembaga pemerintah, komitmen reformasi yang rendah, dan kapasitas institusional yang tidak merata. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah telah menguraikan lima arah reformasi besar untuk 2025-2029, termasuk transformasi digital dan peningkatan layanan publik.
Presiden Prabowo Subianto menekankan pentingnya birokrasi Indonesia untuk menjadi lebih responsif dan efisien. Dalam acara Penandatanganan Kesepakatan Bersama Pengampu Sasaran dan Agenda Reformasi Birokrasi Nasional 2025-2029, Menteri PANRB Rini Widyantini mengungkapkan bahwa Prabowo mengarahkan lembaga pemerintah untuk bertransformasi menjadi sistem yang lebih responsif. Presiden menyoroti bahwa birokrasi Indonesia dikenal lamban, tidak bersih, dan sering mempersulit masyarakat 1
Rini Widyantini mengidentifikasi tiga tantangan utama yang menghambat reformasi birokrasi:
Untuk mengatasi tantangan ini, pemerintah telah menyepakati lima arah utama reformasi birokrasi selama 2025-2029:
Agenda reformasi akan dipandu oleh empat prinsip utama: partisipatif, berkelanjutan, berdampak, dan mengakomodasi keberagaman pemerintah. Rini menekankan pentingnya sinergi lintas sektor dan harmonisasi kebijakan untuk memastikan implementasi yang berhasil.
National Bureaucratic Reform Agreement Signing
Government Transformation Initiative