Industri Baja Indonesia Masih Hadapi Tantangan di 2026
Tekanan Impor yang Berlanjut
Industri baja Indonesia diproyeksikan masih menghadapi tekanan berat pada 2026 karena impor murah terus mendominasi pasar 13. Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (IISIA) memproyeksikan bahwa impor akan mencapai 55% dari kebutuhan baja nasional 1, mempertahankan posisi kuat mereka di pasar. Penetrasi impor yang tinggi ini menekan utilisasi kapasitas produsen domestik yang diperkirakan tetap berada di sekitar 50% 1.
Konsumsi Domestik yang Lemah
Lingkungan konsumsi domestik yang lemah, terutama di sektor konstruksi, semakin memperparah tantangan yang dihadapi produsen baja lokal 13. Menurut Harry Warganegara, Direktur Eksekutif IISIA, "Konsumsi domestik belum pulih sepenuhnya, sektor konstruksi masih lemah, sementara tekanan impor tetap tinggi" 3. Kombinasi faktor-faktor ini menciptakan lingkungan operasional yang menantang bagi produsen baja Indonesia.
Dampak terhadap Produsen Lokal
Dominasi impor murah, terutama dari China, berdampak signifikan terhadap produsen lokal. Tekanan dari impor ini tidak hanya mempengaruhi utilisasi kapasitas tetapi juga berpotensi berdampak pada margin keuntungan dan output produksi 3. Kecuali ditangani melalui kebijakan yang kuat dan konsisten, situasi ini dapat menyebabkan stagnasi atau bahkan penurunan kapasitas produksi domestik.
Konteks Industri Bauksit
Industri bauksit, pemasok bahan baku utama untuk sektor aluminium, juga mengalami perubahan signifikan setelah larangan ekspor bijih bauksit oleh Indonesia sejak 2023 2. Kinerja industri ini kini terkait erat dengan pengembangan fasilitas pengolahan hilir, khususnya smelter yang dapat mengolah bauksit menjadi alumina dan kemudian menjadi aluminium 2. Menurut Asosiasi Bauksit Indonesia (ABI), satu smelter bauksit dapat menyerap 1 juta ton bijih bauksit dan menghasilkan 400-500 ribu ton alumina 2.
Sumber
- [Kontan - Ancaman Impor Baja China](
- [Kontan - Outlook Bauksit 2026](
- [Kontan - Industri Baja Nasional Masih Tertekan](