Key insights and market outlook
Industri baja Indonesia harus mengadopsi teknologi ramah lingkungan untuk tetap kompetitif seiring dengan semakin ketatnya regulasi karbon global. Mekanisme Penyesuaian Karbon Perbatasan (CBAM) Uni Eropa mendorong Indonesia untuk mengurangi intensitas karbon tinggi sebesar 1,6 tCO2e per ton. Climate Catalyst merekomendasikan transisi ke teknologi Electric Arc Furnace (EAF) dan implementasi kebijakan Pengadaan Barang Ramah Lingkungan (GPP) untuk mendorong permintaan baja rendah karbon.
Industri baja Indonesia menghadapi tekanan meningkat untuk mengadopsi teknologi ramah lingkungan seiring dengan semakin ketatnya regulasi karbon global. Mekanisme Penyesuaian Karbon Perbatasan (CBAM) Uni Eropa, yang efektif segera, menambahkan biaya karbon pada barang impor termasuk baja, memaksa produsen Indonesia untuk beradaptasi. Saat ini, Indonesia adalah produsen baja terbesar ke-15 global dengan produksi 16,8 juta ton per tahun, namun intensitas karbon tinggi sebesar 1,6 tCO2e per ton menimbulkan tantangan signifikan.
Climate Catalyst menyarankan beberapa langkah kunci:
Transisi ini membutuhkan belanja modal yang signifikan, terutama untuk fasilitas hidrogen hijau dan infrastruktur EAF. Tanpa dukungan pemerintah yang strategis, risiko investasi tetap tinggi bagi pelaku swasta. Pemerintah harus bertindak sebagai penjamin pasar untuk memastikan transisi yang mulus sambil menjaga daya saing industri.
Walaupun menantang, transisi hijau juga menghadirkan peluang:
CBAM Implementation
Green Technology Adoption
Industrial Policy Update