Key insights and market outlook
Asosiasi industri pelayaran Indonesia, Gapasdap, menyatakan bahwa kemacetan di penyeberangan Merak-Bakauheni selama periode puncak disebabkan oleh keterbatasan infrastruktur, terutama fasilitas pelabuhan yang tidak memadai dan operasional dermaga yang belum optimal. Gapasdap membantah klaim bahwa kekurangan kapal menyebabkan kemacetan, dengan alasan bahwa kapal yang ada tidak dapat beroperasi dengan kapasitas penuh karena kendala infrastruktur. Masalah ini memiliki implikasi ekonomi yang signifikan bagi wilayah tersebut, yang memengaruhi transportasi penumpang dan barang selama liburan besar.
Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap) menantang narasi umum bahwa kekurangan kapal adalah penyebab utama kemacetan selama periode liburan di penyeberangan Merak-Bakauheni. Sebaliknya, asosiasi ini menyatakan bahwa kemacetan yang terus-menerus disebabkan oleh keterbatasan infrastruktur di fasilitas pelabuhan.
Ketua Umum Gapasdap, Khoiri Soetomo, menjelaskan bahwa akar penyebab kemacetan terletak pada jumlah dan kualitas dermaga yang tidak memadai di pelabuhan. Keterbatasan infrastruktur ini mencegah kapal-kapal yang memiliki izin operasional untuk digunakan secara maksimal dan jam operasional yang optimal. Asosiasi ini telah berulang kali menyampaikan kekhawatiran ini kepada Kementerian Perhubungan dan Komisi V DPR.
Kemacetan di Merak-Bakauheni memiliki implikasi ekonomi dan sosial yang signifikan, terutama selama periode liburan besar seperti Idul Fitri, Natal, dan Tahun Baru. Kemacetan ini tidak hanya memengaruhi transportasi penumpang tetapi juga pergerakan barang, yang berpotensi mengganggu rantai pasokan dan berdampak pada berbagai sektor ekonomi.
Pernyataan Gapasdap menyoroti perlunya peningkatan infrastruktur dan praktik manajemen pelabuhan yang lebih baik untuk mengatasi masalah kemacetan yang berulang. Dengan fokus pada peningkatan kapasitas dan efisiensi fasilitas pelabuhan, para pemangku kepentingan dapat bekerja sama untuk menciptakan jaringan transportasi yang lebih andal dan efisien antara Jawa dan Sumatra.
Infrastructure Constraints Identified
Congestion Issues During Peak Periods