Key insights and market outlook
Kabinet Jepang telah menyetujui anggaran 122,3 triliun yen ($784,63 miliar) untuk tahun fiskal berikutnya yang dimulai April 2026. Anggaran ini bertujuan menyeimbangkan stimulus fiskal dengan manajemen utang dengan membatasi penerbitan obligasi baru. Langkah ini diambil di tengah kekhawatiran atas kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah dan yen yang lemah.
Kabinet Jepang yang dipimpin oleh Perdana Menteri Sanae Takaichi telah menyetujui anggaran 122,3 triliun yen ($784,63 miliar) untuk tahun fiskal yang dimulai April 2026. Ini merupakan peningkatan signifikan dari anggaran awal tahun ini sebesar 115,2 triliun yen. Anggaran baru ini bertujuan untuk mencapai keseimbangan antara menjaga kebijakan fiskal proaktif pemerintah dan mengatasi kekhawatiran tentang pertumbuhan utang publik dengan membatasi penerbitan obligasi baru.
Keputusan ini diambil ketika Jepang menghadapi kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah dan depresiasi yen, yang telah memberi tekanan pada pemerintah untuk menunjukkan tanggung jawab fiskal. Perdana Menteri Takaichi menekankan perlunya meyakinkan investor bahwa Jepang akan menghindari penerbitan utang yang tidak bertanggung jawab atau pemotongan pajak. Pemerintah berada di antara mendukung pertumbuhan ekonomi melalui stimulus fiskal dan menjaga kepercayaan investor terhadap kemampuan mereka dalam mengelola tingkat utang yang tinggi.
Anggaran rekor ini akan diajukan ke parlemen awal tahun depan dan diperkirakan memiliki implikasi signifikan bagi arah ekonomi Jepang. Sementara pengeluaran yang meningkat dapat memberikan dorongan pada aktivitas ekonomi, komitmen pemerintah untuk membatasi penerbitan obligasi baru menunjukkan pendekatan yang hati-hati terhadap pembiayaan utang. Anggaran ini mewakili langkah penting dalam manajemen fiskal Jepang, terutama ketika menghadapi tantangan pertumbuhan rendah dan tingkat utang tinggi.
Record Budget Approval
Fiscal Policy Announcement
Debt Management Strategy