Key insights and market outlook
Bank-bank besar Indonesia termasuk BBRI, BBTN, BBCA, dan BBNI mencatat kenaikan signifikan dalam biaya provisi hingga November 2025. Biaya provisi BBRI naik 6,52% YoY menjadi Rp 37,8 triliun, sementara BBTN mengalami lonjakan 139,4% menjadi Rp 5,28 triliun. Tren ini menunjukkan potensi kenaikan berkelanjutan dalam biaya sektor perbankan di tahun 2026.
Bank-bank besar di Indonesia telah mencatat peningkatan substansial dalam biaya provisi mereka hingga November 2025. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), salah satu bank terbesar di negara ini, melihat beban provisi mencapai Rp 37,8 triliun, mewakili kenaikan 6,52% tahun-ke-tahun. Kenaikan signifikan dalam biaya provisi ini merupakan bagian dari tren yang lebih luas yang diamati di beberapa institusi perbankan besar di Indonesia.
Peningkatan biaya provisi tidak seragam di semua bank besar. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) mengalami kenaikan dramatis, dengan beban provisi melonjak 139,4% tahun-ke-tahun menjadi Rp 5,28 triliun. Demikian pula, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) melihat biaya provisi meningkat 92,15% menjadi Rp 3,3 triliun. Sebaliknya, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) mencatat kenaikan yang lebih moderat sebesar 3,1% menjadi Rp 6,6 triliun.
Tren kenaikan biaya provisi hingga November 2025 menunjukkan bahwa bank-bank Indonesia mungkin akan terus menghadapi tantangan terkait kualitas aset dan manajemen risiko kredit di tahun 2026. Variasi signifikan dalam kenaikan biaya provisi di berbagai bank dapat dikaitkan dengan komposisi portofolio pinjaman dan strategi manajemen risiko masing-masing. Ketika sektor perbankan menghadapi tantangan ini, stabilitas keuangan dan kapasitas pinjaman institusi-institusi ini akan dipantau ketat oleh pelaku pasar dan regulator.
Provisioning Cost Increase
Banking Sector Expenses Rise