Key insights and market outlook
Junta militer Myanmar mengumumkan pencabutan jam malam di Yangon yang efektif segera, hanya beberapa hari sebelum pemilihan umum di negara tersebut. Jam malam, yang diberlakukan sejak kudeta 2021, secara bertahap dikurangi dan sekarang akan dihapus sepenuhnya. Junta mengutip stabilitas regional yang membaik sebagai alasan keputusan ini. Pemilu ini diadakan di tengah kekhawatiran tentang kembalinya normalitas negara setelah pengambilalihan militer.
Junta militer Myanmar mengumumkan pada hari Jumat bahwa mereka akan mencabut jam malam di Yangon, kota terbesar negara itu, hanya beberapa hari sebelum pemilihan umum mendatang. Jam malam, yang diberlakukan sejak kudeta militer 2021, telah secara bertahap dikurangi seiring waktu. Jam malam yang tersisa dari pukul 01:00 hingga 03:00 waktu setempat akan dihapus mulai Sabtu. Juru bicara junta, Zaw Min Tun, menyatakan bahwa keputusan itu diambil karena stabilitas yang membaik di wilayah Yangon.
Kudeta militer pada tahun 2021 menggulingkan pemerintahan yang dipilih secara demokratis di Myanmar, yang menyebabkan protes pro-demokrasi besar-besaran di seluruh negeri. Jam malam awalnya diberlakukan ketika pasukan keamanan berjuang untuk mengendalikan demonstrasi. Selama bertahun-tahun, durasi jam malam secara bertahap dipersingkat seiring situasi yang membaik. Pencabutan jam malam dilihat sebagai bagian dari upaya junta untuk menunjukkan kembalinya normalitas menjelang pemilu.
Keputusan untuk mencabut jam malam ini signifikan karena datang tepat sebelum pemilu, yang digunakan junta sebagai justifikasi untuk kembalinya normalitas di negara tersebut. Namun, para kritikus dan pengamat tetap skeptis tentang sejauh mana normalisasi yang sebenarnya. Pemilu ini diadakan di bawah bayang-bayang kontrol militer yang terus berlanjut atas pemerintahan dan aparatus keamanan.