Key insights and market outlook
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang baru dilantik, Arif Satria, berjanji untuk memperkuat kapasitas riset Indonesia dengan meningkatkan jumlah peneliti dan memperbaiki manajemen talenta di bidang penelitian. Arif menekankan bahwa kekuatan riset suatu negara bergantung pada lima faktor utama: jumlah dan kualitas peneliti, pendanaan, infrastruktur, serta ekosistem penelitian yang mendukung. Indonesia saat ini masih tertinggal dibandingkan negara lain di Asia dalam hal jumlah peneliti.
Arif Satria, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang baru dilantik, telah berkomitmen untuk memperkuat kemampuan riset Indonesia. Setelah pelantikannya oleh Presiden Prabowo Subianto pada 10 November 2025, Arif menekankan pentingnya meningkatkan jumlah peneliti di Indonesia. Ia menyoroti bahwa kekuatan riset suatu negara ditentukan oleh lima faktor kritis: kuantitas dan kualitas peneliti, pendanaan riset, infrastruktur, dan ekosistem penelitian yang mendukung.
Menurut Arif, Indonesia saat ini masih tertinggal dibandingkan negara-negara Asia lainnya dalam hal jumlah peneliti. Keterbelakangan ini menggarisbawahi perlunya perbaikan strategis dalam manajemen talenta di sektor riset. Komitmen Arif untuk mengatasi masalah ini menandakan potensi perubahan dalam pendekatan Indonesia terhadap riset dan inovasi.
Dengan Arif memimpin BRIN, fokus diharapkan akan tertuju pada pembangunan infrastruktur riset yang lebih kuat. Ini termasuk tidak hanya meningkatkan jumlah peneliti tetapi juga memastikan mereka memiliki sumber daya dan dukungan yang diperlukan untuk melakukan riset berkualitas tinggi. Kesuksesan inisiatif ini dapat memiliki implikasi signifikan bagi lanskap inovasi Indonesia dan kemampuannya bersaing secara regional.
BRIN Leadership Change
Research Capacity Enhancement Pledge