Key insights and market outlook
Peretas yang didukung Korea Utara mencuri US$ 2,02 miliar aset kripto di 2025, menjadikannya pencurian terbesar dalam sejarah. Ini merupakan peningkatan 50% dari angka 2024, sehingga total aset kripto yang dicuri sejak 2016 mencapai US$ 6,75 miliar. Dana tersebut diyakini digunakan untuk mendukung program nuklir dan rudal Korea Utara, menurut pejabat keamanan.
Peretas yang didukung Korea Utara telah mencuri US$ 2,02 miliar mata uang kripto selama tahun 2025, menandai pencurian terbesar dalam sejarah menurut perusahaan analitik blockchain Chainalysis. Ini merupakan peningkatan signifikan 50% dibandingkan tahun sebelumnya, menggarisbawahi meningkatnya kecanggihan operasi kejahatan siber yang disponsori negara.
Pencurian tahun 2025 ini membawa total jumlah mata uang kripto yang dicuri oleh peretas Korea Utara sejak 2016 menjadi US$ 6,75 miliar. Pejabat keamanan telah lama memperingatkan bahwa dana ilegal ini digunakan untuk mendukung program senjata nuklir dan rudal balistik Korea Utara, meskipun adanya sanksi internasional. Skala operasi ini menunjukkan betapa pentingnya pencurian mata uang kripto sebagai mekanisme pendanaan bagi rezim tersebut.
Pejabat keamanan Amerika Serikat dan Perserikatan Bangsa-Bangsa telah berulang kali menyoroti bagaimana Korea Utara menggunakan hasil kejahatan siber untuk menghindari sanksi internasional dan mendanai program militernya. Angka terbaru ini memperkuat keprihatinan tersebut, menunjukkan bagaimana rezim terus mengeksploitasi kerentanan di sektor mata uang kripto. Ketika regulator global dan pakar keamanan siber menanggapi ancaman ini, skala operasi Korea Utara menghadirkan tantangan signifikan bagi keamanan keuangan internasional.
Record Crypto Theft in 2025
North Korea Cybercrime Operations