Key insights and market outlook
Sebuah survei terbaru Sun Life Asia menunjukkan bahwa hanya 27% pemilik usaha keluarga di Asia yang memiliki rencana penerus usaha yang komprehensif, meskipun 94% berniat menyiapkan pengaturan warisan. Kurangnya kesiapan ini menimbulkan risiko besar bagi keberlangsungan usaha keluarga, yang merupakan fondasi ekonomi Asia. 69% responden menempatkan perlindungan keuangan keluarga sebagai faktor penting dalam perencanaan warisan.
Sebuah survei komprehensif yang dilakukan Sun Life Asia menemukan bahwa hanya 27% pemilik usaha keluarga di Asia yang telah mengembangkan rencana penerus usaha yang komprehensif. Meskipun 94% responden mengungkapkan niat untuk menyiapkan pengaturan warisan, mayoritas belum mengambil langkah konkret untuk memastikan keberlangsungan usaha mereka. Jarak antara niat dan tindakan ini menimbulkan tantangan besar bagi keberlanjutan jangka panjang perusahaan keluarga, yang sangat penting bagi lanskap ekonomi Asia.
Survei ini menyoroti perbedaan signifikan dalam kesiapan perencanaan penerus antarwilayah. Indonesia menunjukkan tingkat kesiapan tertinggi di antara negara-negara yang disurvei, dengan 39% usaha keluarga memiliki rencana penerus terstruktur. Sebaliknya, Vietnam memiliki tingkat terendah, dengan hanya 14% yang memiliki rencana formal. Hong Kong dan Singapura masing-masing mencatat 20% dan 28%. Variasi ini menggarisbawahi beragam tantangan yang dihadapi usaha keluarga di berbagai pasar Asia.
Survei juga mengungkapkan kesenjangan komunikasi yang signifikan antar generasi mengenai rencana penerus. Di antara penerus keluarga yang terlibat dalam operasional bisnis, hanya 44% yang melaporkan bahwa generasi sebelumnya telah mengomunikasikan rencana warisan mereka secara menyeluruh. Angka ini turun menjadi 27% di kalangan penerus yang tidak terlibat langsung dalam bisnis. Metode yang paling disukai untuk membahas penerus usaha termasuk rapat keluarga formal (57%), diskusi formal satu lawan satu (52%), dan diskusi informal (43%).
Pemilik usaha keluarga mengidentifikasi perlindungan keuangan (69%) sebagai faktor paling kritis dalam perencanaan penerus, diikuti oleh komunikasi yang jelas tentang rencana warisan (54%) dan membangun kekayaan yang cukup untuk generasi mendatang (51%). Mayoritas (68%) mengungkapkan preferensi untuk warisan mereka diinvestasikan dalam aset keuangan, asuransi jiwa, atau bisnis keluarga untuk memastikan pertumbuhan jangka panjang.
Survei mengidentifikasi perbedaan generasi yang signifikan sebagai tantangan utama. Alasan utama yang disebutkan penerus untuk tidak mengambil alih bisnis keluarga termasuk keinginan untuk mandiri (50%), takut akan tanggung jawab (42%), kurangnya minat (28%), dan perbedaan nilai atau visi (27%). Hanya 40% pemilik saat ini yang percaya bahwa generasi berikutnya sepenuhnya bersedia melanjutkan bisnis, sementara angka ini bahkan lebih rendah (31%) di kalangan penerus yang tidak terlibat langsung dalam operasional.
Maika Randini, Chief Marketing Officer Sun Life Indonesia, menekankan bahwa banyak usaha keluarga berada pada titik kritis karena kesenjangan generasi yang semakin lebar. Beliau mencatat bahwa generasi muda memprioritaskan kemandirian, tujuan pribadi, dan keseimbangan hidup, sehingga memerlukan perencanaan penerus yang lebih kuat dan dialog terbuka tentang masa depan usaha keluarga.
Succession Planning Survey Results
Family Business Continuity Concerns