Key insights and market outlook
PT PLN (Persero) berencana merevisi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) untuk mengakomodasi kebutuhan listrik proyek smelter aluminium baru PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) di Kalimantan Barat. Smelter yang diperkirakan beroperasi pada 2029 ini akan membutuhkan listrik 932 MW, melebihi kapasitas saat ini 631 MW di Kalimantan Barat. PLN perlu membangun pembangkit listrik baru dan memperkuat infrastruktur transmisi untuk memenuhi permintaan ini.
PT PLN (Persero), perusahaan listrik milik negara, berencana merevisi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) untuk memenuhi kebutuhan listrik proyek smelter aluminium baru PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) di Kalimantan Barat. Smelter ini diperkirakan akan beroperasi pada 2029 dan membutuhkan 932 MW listrik.
Sistem kelistrikan saat ini di Kalimantan Barat memiliki kapasitas 631 MW, jauh lebih rendah dari permintaan smelter baru. Direktur Retail dan Niaga PLN, Adi Priyanto, menyatakan bahwa PLN perlu membangun pembangkit listrik tambahan dan memperkuat infrastruktur transmisi untuk memenuhi permintaan ini. Revisi RUPTL sangat penting untuk memasukkan permintaan baru ini ke dalam perencanaan jangka panjang PLN.
Adi menyebutkan bahwa detail ekspansi Inalum masih dalam kajian internal dan studi kelayakan, yang diperkirakan selesai pada awal 2026. PLN akan terus memantau perkembangan ini untuk memastikan perencanaan infrastruktur mereka selaras dengan timeline proyek Inalum. Revisi RUPTL akan memungkinkan PLN untuk mempersiapkan infrastruktur yang diperlukan untuk mendukung kebutuhan listrik smelter.
RUPTL Revision for New Smelter
Electricity Infrastructure Expansion