Key insights and market outlook
Isu potensi merger antara PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan Grab menimbulkan ketidakpastian tentang masa depan bank digital yang berafiliasi dengan mereka: Bank Jago (ARTO) dan Superbank. Merger ini dapat berdampak signifikan pada strategi bisnis, akuisisi nasabah, dan kinerja keuangan mereka. Bank Jago menunjukkan kinerja keuangan yang kuat dengan laba bersih Rp199 miliar pada kuartal III 2025, sementara Superbank menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah tiga tahun mengalami kerugian.
Isu potensi merger antara PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan Grab kembali muncul, menarik perhatian besar di sektor keuangan dan teknologi Indonesia. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi secara tidak langsung mengkonfirmasi kabar ini dengan menyatakan bahwa pemerintah sedang membahas kemungkinan penggabungan dua raksasa ride-hailing tersebut.
Isu merger ini menimbulkan kekhawatiran tentang masa depan dua bank digital yang berafiliasi dengan GOTO dan Grab: Bank Jago yang berada dalam ekosistem GOTO, dan Superbank yang berafiliasi dengan Grab. Konsolidasi potensial ini dapat berdampak signifikan pada strategi bisnis, proses akuisisi nasabah, dan kinerja keuangan mereka.
Bank Jago menunjukkan kinerja keuangan yang kuat pada 2025. Hingga kuartal III 2025, bank ini melaporkan laba bersih sebesar Rp199 miliar, meningkat 132% dibandingkan tahun sebelumnya. Dana pihak ketiga mencapai Rp23,9 triliun, tumbuh 41%, sementara jumlah nasabah total melebihi 18,6 juta. Penyaluran kredit bank mencapai Rp23,5 triliun, dengan pertumbuhan 36%, dan kualitas aset yang terjaga dengan rasio NPL gross hanya 0,4%. Aset bank meningkat menjadi Rp34,5 triliun, dengan rasio kecukupan modal yang kuat sebesar 32,9%.
Superbank menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada 2025 setelah melaporkan kerugian selama tiga tahun berturut-turut hingga 2024. Pada kuartal I 2025, bank ini mencatat laba bersih pertama sebesar Rp251 juta, diikuti Rp20,1 miliar pada semester I, dan Rp60,12 miliar pada kuartal III 2025. Pendapatan bunga bersih tumbuh signifikan, didorong oleh peningkatan pesat dalam penyaluran kredit yang melonjak lebih dari 120% pada semester pertama 2025.
Para ahli keuangan memiliki pendapat yang berbeda tentang potensi dampak merger GOTO-Grab terhadap bank digital yang berafiliasi. Moch Amin Nurdin, Penasihat di Banking & Finance Development Centre, percaya bahwa jika merger terjadi, Superbank mungkin menghadapi konsekuensi negatif karena ketergantungannya pada ekosistem Grab. Dia menyarankan bahwa Superbank perlu mencari mitra baru atau membangun ekosistem yang berbeda, yang bisa menjadi tantangan mengingat sebagian besar platform e-commerce besar di Indonesia sudah memiliki mitra perbankan digital masing-masing.
Sebaliknya, Trioksa Siahaan, Kepala Riset di Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), mencatat bahwa prospek pertumbuhan Superbank tergantung pada entitas mana yang menjadi dominan dalam struktur merger. Jika Grab tetap menjadi entitas dominan dan mempertahankan afiliasinya dengan Superbank, bank tersebut bisa mendapatkan manfaat dari sinergi yang meningkat dan perluasan pasar.
Potensi merger antara GOTO dan Grab bukan hanya masalah perubahan lanskap layanan ride-hailing dan e-commerce; hal ini juga dapat berdampak signifikan pada sektor perbankan digital di Indonesia. Hasilnya akan tergantung pada bagaimana entitas gabungan menyusun layanan keuangan mereka dan bank digital mana yang menjadi mitra perbankan utama. Ketika situasi berkembang, Bank Jago dan Superbank kemungkinan akan menghadapi keputusan strategis yang akan menentukan pertumbuhan dan daya saing mereka di masa depan dalam lanskap perbankan digital yang berkembang pesat.
Potential GOTO-Grab Merger
Bank Jago Financial Performance
Superbank Recovery