Key insights and market outlook
Rupiah melemah 0,13% ke Rp16.819 per USD per 9 Januari 2026, di tengah kekhawatiran kondisi fiskal negara dan sentimen ekonomi global. Defisit fiskal mencapai 2,92% di tahun 2025, mendekati ambang batas 3%, yang meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar. Kepala Ekonom BCA David Sumual mengaitkan tekanan pada rupiah dengan kombinasi faktor domestik dan global.
Rupiah melemah sebesar 0,13% menjadi Rp16.819 per USD pada 9 Januari 2026, berdasarkan data Bloomberg. Untuk minggu tersebut, mata uang melemah sebesar 0,55% dari Rp16.725 per USD pada akhir minggu sebelumnya. Demikian pula, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) turun sebesar 0,20% menjadi Rp16.834 per USD dari Rp16.801 per USD pada 8 Januari 2026.
David Sumual, Kepala Ekonom BCA, menganalisis bahwa tekanan pada rupiah berasal dari kombinasi sentimen domestik dan global. Di sisi domestik, kekhawatiran tentang kondisi fiskal tetap menjadi perhatian utama di kalangan pelaku pasar, terutama setelah defisit anggaran 2025 mencapai 2,92%, mendekati batas 3%.
Pelemahan rupiah mencerminkan kekhawatiran pasar tentang kesehatan fiskal Indonesia dan dampak potensialnya terhadap ekonomi. Kedekatan defisit fiskal dengan ambang batas 3% telah meningkatkan sensitivitas pasar, yang berpotensi menyebabkan volatilitas lanjutan di pasar valuta asing.
Rupiah Depreciation
Fiscal Deficit Concern