Key insights and market outlook
Kaya di Asia Tenggara kini menghamburkan uang untuk penthouse mewah dengan fitur unik seperti 'garasi langit' untuk supercar, sementara pemilik rumah kelas menengah berjuang dengan cicilan, menunjukkan kesenjangan kekayaan yang semakin melebar di wilayah ini. Properti mewah di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bangkok mengalami permintaan luar biasa, sementara banyak yang kehilangan rumah karena penyitaan akibat kehilangan pekerjaan atau masalah utang. Fenomena ini mencerminkan ketidaksetaraan ekonomi yang tajam di wilayah ini.
Asia Tenggara menyaksikan kontras tajam di pasar propertinya, di mana orang kaya menikmati penthouse ultra-mewah dengan fitur mewah, sementara banyak pemilik rumah kelas menengah berjuang membayar cicilan. Wilayah ini dikenal memiliki beberapa ekonomi paling timpang di dunia, dengan 10% teratas di negara-negara seperti Thailand menguasai lebih dari 70% kekayaan.
Konsultan properti mewah seperti Daniel Ho melaporkan bahwa individu dengan kekayaan tinggi mencari hunian bermerek premium dengan fitur unik seperti 'garasi langit' - parkir bertingkat untuk supercar yang terhubung langsung ke ruang tamu. Properti ini, yang sering berlokasi di kawasan elit kota-kota besar seperti Bangkok, Jakarta, Kuala Lumpur, dan Manila, dijual dengan harga fantastis. Permintaan properti mewah ini didorong oleh meningkatnya jumlah individu dengan kekayaan sangat tinggi di wilayah ini yang bersedia membayar mahal untuk eksklusivitas dan prestise.
Sebaliknya, pemilik rumah kelas menengah menghadapi realitas berbeda. Banyak yang berjuang untuk memenuhi kebutuhan, dengan kehilangan pekerjaan dan masalah utang memaksa mereka gagal bayar cicilan. Charoen Kijvekin, manajer aset tingkat menengah, mencatat bahwa sebagian besar kliennya kehilangan pekerjaan dan tak mampu membayar pinjaman, sehingga berujung pada penyitaan. Hal ini menciptakan pasar yang berkembang untuk manajemen aset bermasalah, dengan perusahaan seperti JZD Asset Management menawarkan solusi pembiayaan alternatif kepada pemilik rumah yang menghadapi penyitaan.
Jurang antara kaya dan miskin di Asia Tenggara menjadi perhatian serius. Di Thailand, 10% populasi teratas menguasai lebih dari 70% kekayaan negara, menurut World Inequality Database. Demikian pula di Filipina, kekayaan 50 keluarga teratas setara dengan hampir seperlima total ekonomi. Ketimpangan ekonomi ini tercermin dalam pasar properti ganda, di mana pembangunan mewah terus berkembang sementara banyak pemilik rumah biasa berjuang untuk bertahan.
Kisah mereka yang terkena dampak jurang kekayaan ini sangatlah kontras. Di satu sisi, ada orang-orang super kaya yang mendorong permintaan properti mewah dengan fitur tak biasa. Di sisi lain, ada keluarga yang kehilangan rumah karena keadaan di luar kendali mereka, seperti kehilangan pekerjaan atau krisis keluarga. Kontras antara dua dunia ini menyoroti lanskap ekonomi kompleks Asia Tenggara, di mana pertumbuhan ekonomi tidak terdistribusi secara merata.
Fenomena penthouse mewah dan penyitaan yang terjadi bersamaan di Asia Tenggara mencerminkan jurang kekayaan yang semakin dalam di wilayah ini. Sementara orang kaya terus berinvestasi pada properti kelas atas, mereka yang kurang beruntung berjuang mempertahankan rumah mereka. Mengatasi ketimpangan ini akan sangat penting bagi stabilitas ekonomi jangka panjang dan harmoni sosial di wilayah ini.
Permintaan Properti Mewah Meningkat
Krisis Utang dan Penyitaan