Key insights and market outlook
Skema pinjaman 'tadpole' yang ditandai dengan cicilan awal yang lebih besar kemudian menurun, dikritik karena merugikan konsumen, terutama mereka yang berada dalam situasi darurat menggunakan layanan pinjaman online. Para ahli memperingatkan bahwa banyak peminjam tidak menyadari dampak negatifnya, dengan beberapa di antaranya membayar 50%-75% dari total pinjaman pada cicilan pertama.
Skema pinjaman 'tadpole' yang ditandai dengan pembayaran awal yang lebih besar yang kemudian menurun pada periode berikutnya, telah mendapat sorotan karena potensinya untuk merugikan konsumen. Struktur pembayaran ini berbeda signifikan dari pinjaman dengan cicilan yang sama besar, karena memaksa peminjam untuk membayar porsi yang jauh lebih besar dari jumlah pinjaman di tahap awal.
Piter Abdullah, Direktur Eksekutif Segara Research Institute, menyoroti bahwa banyak peminjam tidak sepenuhnya menyadari implikasi negatif dari skema ini. Wawancara mendalam yang dilakukan oleh Segara mengungkapkan bahwa beberapa responden diharuskan membayar antara 50% hingga 75% dari total jumlah pinjaman pada cicilan pertama. Sisa saldo kemudian dilunasi melalui cicilan tetap atau menurun pada periode berikutnya.
Skema tadpole sangat mengkhawatirkan bagi konsumen yang menggunakan layanan pinjaman online selama keadaan darurat keuangan. Para ahli berpendapat bahwa struktur ini dapat menyebabkan tekanan keuangan pada peminjam yang mungkin tidak sepenuhnya memahami syarat dan ketentuan atau tidak siap untuk pembayaran awal yang tinggi. Kritik ini menyoroti perlunya transparansi yang lebih besar dan perlindungan konsumen di pasar pinjaman online Indonesia.
Criticism of Tadpole Loan Scheme
Consumer Protection Concerns in Online Lending