Key insights and market outlook
Industri tekstil Indonesia mengalami kerugian besar dengan 47.115 pekerja terkena PHK antara Januari dan Oktober 2025 menurut Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN). Total PHK sejak 2023 telah mencapai 126.160 pekerja di 72 perusahaan, terutama akibat peningkatan kompetisi impor dan kontraksi industri. Presiden KSPN Ristadi mengaitkan PHK dengan pasar domestik yang dibanjiri produk impor, memaksa perusahaan untuk melakukan efisiensi dan penutupan produksi.
Industri tekstil Indonesia mengalami krisis besar dengan kerugian pekerjaan yang signifikan pada tahun 2025. Menurut data dari Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN), 47.115 pekerja terkena PHK antara Januari dan Oktober 2025. Ini membawa total PHK sejak 2023 menjadi 126.160 pekerja di 72 perusahaan, dengan 59 di antaranya adalah perusahaan tekstil dan produk tekstil (TPT) dan 13 dari sektor non-TPT.
Presiden KSPN Ristadi mengaitkan PHK masif dengan membanjirnya pasar domestik dengan produk impor, yang menyebabkan kontraksi industri. Banyak perusahaan terpaksa melakukan efisiensi dan menutup lini produksi, mengakibatkan kerugian pekerjaan besar-besaran. Situasi ini menyoroti tantangan yang dihadapi industri tekstil Indonesia dalam bersaing dengan produk internasional, terutama impor.
Angka PHK tahun 2025 melanjutkan tren yang diamati sejak 2023. Pada tahun 2024 saja, KSPN melaporkan 79.045 pekerja terkena PHK, dengan beberapa kasus bermula sejak akhir 2022. Situasi yang terus berlanjut ini menunjukkan bahwa industri tekstil berada di bawah tekanan besar, yang berpotensi memerlukan intervensi kebijakan untuk melindungi produsen dan pekerja domestik.
Massive Layoffs in Textile Sector
Industry Contraction Due to Imports