Key insights and market outlook
Industri ganja AS yang bernilai $30 miliar dalam penjualan ritel kini berada di ambang integrasi finansial setelah Presiden Donald Trump memerintahkan reklasifikasi ganja dari Schedule I ke Schedule III, yang berpotensi melonggarkan restriksi perbankan dan memungkinkan transaksi elektronik. Langkah ini dapat mentransformasi industri dengan memungkinkan layanan keuangan legal dan akses perbankan mainstream, mengakhiri tahun-tahun operasi tunai akibat pelarangan federal.
Industri ganja AS telah mengalami pertumbuhan pesat dalam dua dekade terakhir, dengan penjualan ritel mencapai $30 miliar tahun lalu. Meskipun memiliki dampak ekonomi signifikan, industri ini tetap terpinggirkan dari sistem keuangan formal karena regulasi federal. Ganja saat ini diklasifikasikan sebagai zat Schedule I, bersama heroin dan LSD, membuat setiap dolar yang dihasilkan dianggap sebagai hasil aktivitas kriminal.
Ketidakmampuan mengakses layanan perbankan mainstream memaksa bisnis ganja beroperasi terutama dengan tunai, menciptakan tantangan operasional dan keamanan yang signifikan. Bank-bank besar AS enggan berinteraksi dengan industri ini karena risiko hukum terkait penanganan hasil penjualan ganja.
Arahan Presiden Donald Trump baru-baru ini kepada Departemen Kehakiman untuk mereklasifikasi ganja ke Schedule III menandai potensi perubahan signifikan. Perubahan ini akan memungkinkan penelitian medis dan aktivitas bisnis CBD diperlakukan lebih seperti bisnis farmasi yang sah. Bagi pelaku industri, ini mewakili langkah penting menuju normalisasi keuangan dan akses ke layanan keuangan modern.
Reklasifikasi yang diusulkan dapat memiliki implikasi luas:
Walaupun perkembangan ini menjanjikan, pelaku industri tetap berhati-hati karena prosesnya masih berlangsung dan tunduk pada tinjauan hukum.
Cannabis Rescheduling Announcement
Potential Banking Access for Cannabis Industry