Key insights and market outlook
Indeks S&P 500 naik 16% di 2025, menandai tahun ketiga berturut-turut dengan imbal hasil dua digit. Namun, valuasi saat ini yang tinggi dan pola historis di sekitar pemilu mid-term AS menunjukkan potensi tantangan bagi investor di 2026. Ketua Federal Reserve Jerome Powell memperingatkan bahwa harga saham tergolong sangat mahal dalam sejarah. Secara historis, S&P 500 rata-rata hanya menghasilkan return 1% selama tahun pemilu mid-term, dengan kinerja yang bahkan lebih buruk selama masa awal presiden baru.
Indeks S&P 500 telah menunjukkan ketahanan yang luar biasa, naik 16% di 2025, menandai tahun ketiga berturut-turut dengan imbal hasil dua digit. Namun, tren positif ini berpotensi terganggu di 2026 karena beberapa faktor. Pertama, valuasi saham saat ini jauh lebih tinggi dari standar historis. Ketua Federal Reserve Jerome Powell mencatat pada September 2026 bahwa harga saham "tergolong sangat mahal dalam sejarah" berdasarkan berbagai metrik.
Data historis kinerja S&P 500 sejak awal berdirinya pada 1957 menunjukkan bahwa selama 17 tahun pemilu mid-term, indeks ini rata-rata hanya menghasilkan return 1% (tidak termasuk dividen). Ini jauh lebih rendah dari rata-rata return tahunan 9% sejak 1957. Kinerja menjadi lebih menantang ketika pemilu mid-term terjadi pada awal masa kepresidenan, dengan penurunan rata-rata 7%.
Kombinasi antara valuasi saat ini yang tinggi dan pola historis tahun pemilu mid-term menunjukkan bahwa investor harus berhati-hati di 2026. Meskipun pasar terus naik sejak peringatan Powell, valuasi yang meregang menunjukkan potensi kerentanan. Investor harus mempertimbangkan tren historis dan kondisi pasar saat ini ketika membuat keputusan investasi untuk tahun mendatang.
Potential Market Downturn in 2026
High Stock Valuations Warning
US Midterm Elections Impact